南款蒲
2019-05-21 08:18:24
发布时间:2017年11月11日上午8:59
更新时间:2017年11月11日上午8:59

PERSUASIF。 Otoritas keamanan印度尼西亚masih mencoba untuk bernegosiasi dengan kelompok kriminal bersenjata(KKB)yang disebut menyandera ribuan warga di dua desa di Tembagapura。 Ilustrasi:拉普勒

PERSUASIF。 Otoritas keamanan印度尼西亚masih mencoba untuk bernegosiasi dengan kelompok kriminal bersenjata(KKB)yang disebut menyandera ribuan warga di dua desa di Tembagapura。 Ilustrasi:拉普勒

雅加达,印度尼西亚 - Otoritas keamanan masih bernegosiasi dengan kelompok kriminal bersenjata(KKB)yang dipimpin Sabinus Waker untuk membebaskan ribuan warga Tembagapura,Papua,yang mereka sandera。 Warga memang tidak disakiti,namun dilarang meninggalkan desanya sejak hari Rabu kemarin。

Menkopolhukam Wiranto meminta kepada Kapolda Papua Irjen(Pol)男孩Rafli Amar dan Pangdam XVII Cendrawasih Mayjen George Elandus Supit untuk menangani kasus penyanderaan ribuan warga di Distrik Tembagapura dengan cara persuasif。

“Sekarang sudah kita minta supaya Kapolda,Pangdam Papua terutama di Timika untuk segera melakukan langkah-langkah persuasif dulu ya,”ujar Wiranto di Istana Kepresidenan pada Kamis,11月9日。

Ia yakin semua masalah bisa diselesaikan dengan cara musyawarah mufakat。 Tetapi,bukan berarti membiarkan penyanderaan terhadap warga sipil。

“Tidak ada serang menyerang,tidak ada tuduh menuduh。 Tidak ada konflik kan begitu keinginan kita,“tutur dia。

Ia mentinginkan warga Papua diberikan pemahaman bahwa tindak penyanderaan pun tidak dibenarkan。 Tindakan itu melanggar hukum。

“Di negara hukum tidak bisa,kami tidak menolerir tindakan seperti itu。 Tapi,itu juga jangan sampai berujung ke tindakan-tindakan yang memancing situasi。 Kita kan ingin supaya keadaan itu aman damai,“tuturnya lagi。

Kepala polisi setempat Victor Dean Macbon mengatakan sekitar 700 personel keamanan telah berada di sekitar dua desa dekat perusahaan milik Amerika Serikat PT Freeport。 Menurut Victor,apa yang diinginkan oleh pelaku hanyalah perang。

“Orang-orang ini berasal dari sebuah kelompok kriminal yang melakukan tindak kekerasan dan intimidasi。 Apa yang mereka inginkan adalah peperangan,“kata dia。

Jika polisi印度尼西亚menganggap warga desa tengah disandera,lain halnya dengan informasi yang diperoleh dari Komnas HAM。 Menurut mereka,pelaku tidak menawan warga setempat,melainkan melindungi mereka dari polisi dan TNI。

Mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan penduduk desa khawatir militer tengah menciptakan persepsi kepada publik bahwa kelompok OPM adalah pelaku krimintal。

“Warga merasa takut。 Oleh sebab itu mengapa(OPM)berdiri untuk menjaga sehingga TNI tidak dapat masuk,“kata Natalius。

Lagipula,banyak di antara anggota OPM yang memiliki keluarga di desa yang tengah mereka sandera。

“Saya jamin,ini bukan situasi penyanderaan。 Tidak mungkin mereka akan menyandera anggota keluarganya sendiri,“tuturnya lagi。

Ada warga yang diculik?

Sementara,menurut informasi dari Polda Papua,ada seorang warga Banti Kampung Utiniki Tembagapura yang telah diculik oleh KKB pada Jumat kemarin。 Hal itu didasari informasi dari masyarakat,bahwa salah satu warga mereka atas nama Martinus Beanal telah diculik oleh KKB。

Martinus sudah tidak pulang ke rumah selama dua hari。

“Atas dasar laporan itu,Polda Papua terus melakukan penyelidikan mengenai kebenaran informasi penculikan tersebut,”ujar juru bicara Polda Papua,Kombes(Pol)Ahmad Mustofa Kamal pada Jumat kemarin。

Sayangnya,Martinus ditemukan beberapa jam kemudian dalam kondisi tidak lagi bernyawa。 Ia meninggal di Kampung Utikini。

“Korban ditemukan di lock camp kelompok bersenjata dan diduga ditembak,”kata dia。

Jasad Martinys langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan。 Menurut Ahmad,Martinus sempat menghubungi istrinya sebelum diculik。

Ia diketahui bekerja di PT Pangansari Utama,salah satu penyedia jasa katering di lingkungan PT Freeport Indonesia。 Martinus tinggal di barak E 214 Distrik Tembagapura Kabupaten Mimika。 Namun,ia memutuskan turun ke Kampung Utikini untuk bertemu istri yang takut terhadap situasi di sana。

Martinus sempat berkomunikasi melalui ponsel dengan kerabatnya sebelum akhirnya terputus。 Ia mengatakan jika Martinus sudah berada di Kampung Baru yang menjadi lokasi pengibaran bendera bintang kejora。 Tidak berapa lama kemudian terdengar bunyi tembakan dan komnunikasi terputus。

“Melihat kejadian itu,pihak keluarga atas nama Yulianus Beanal berasumsi bahwa saudara Martinus telah menjadi korban penembakan oleh KKB。 Pihak keluarga akhirnya melakukan pencarian hingga Jumat pagi tetapi belum berhasil,“tutur Ahmad menceritakan awal mula kisah penculikan itu。

Pihak keluarga menghubungi keluarga yang berada di Area Opitawak namun hasilnya juga nihil。 Pencarian dilanjutkan dengan mencari di sekitar barak-barak yang ada di Tembagapura,tetapi tidak mendapatkan hasil。

“Akhirnya,pihak keluarga melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tembagapura untuk mendapat penanganan lebih lanjut,”kata dia。 - dengan laporan AFP / Rappler.com